STOP SMOKING NOW... Inilah beberapa efek buruk merokok

Cantik dengan herbal

Saturday, September 17, 2011

Siti Arrahmah, Bayi Terlahir dengan Jantung di Luar Tubuh diterbangkan ke Jakarta

Sabtu, 17 September 2011 15:42 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, PEKANBARU - Tim dokter akhirnya membawa Siti Arrahma, bayi dengan jantung di luar badan, menggunakan pesawat komersil ke Jakarta agar mendapat layanan medis yang lebih baik. "Pihak keluarga sudah menyetujui untuk dibawa ke Jakarta," kata Khairuddin, ayah dari Siti Rahmah di RS Ibnu Sina, Pekanbaru, Sabtu.

Ia mengatakan, dirinya sudah menandatangani surat pernyataan dan mengetahui risiko terburuk yang bisa menimpa putri pertamanya itu selama di perjalanan.

Sebelumnya, tim dokter spesialis dari RS Harapan Kita dari Jakarta telah merekomendasikan agar bayi Siti diterbangkan menggunakan pesawat carter demi menjamin keselamatannya.

Bayi Siti berangkat dari RS Ibnu Sina sekitar pukul 12.30 WIB. Bayi malang itu diletakkan di dalam kotak inkubator lengkap dengan tabung oksigen untuk membantu pernafasan.

Totok Wisnu, spesialis anak dari RS Harapan Kita, juga terlihat menemani bayi Siti bersama sejumlah awak medis dan pihak keluarga. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkalis, Zulfan Heri, mengatakan bayi Siti direncanakan bakal menggunakan pesawat maskapai Batavia Air pada pukul 14.00 WIB.

"Kita upayakan semampu kita karena carter pesawat yang cocok untuk medis hanya ada di Singapura dan biayanya bisa sampai Rp 600 juta," katanya.

Menurut dia, kesepakatan menggunakan pesawat Batavia tinggal menunggu persetujuan dari pilot pesawat.

Siti Arrahmah baru berusia lima hari, lahir dari pasangan Khairuddin dengan Diana di Desa Muara Basung, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis, Riau. Dia lahir dengan bantuan dokter kampung. Tim dokter mendiagnosa bayi Siti menderita penyakit langka karena 90 persen jantungnya di luar rongga dadanya. Ia juga mengalami penyempitan pembuluh darah paru-paru sehingga kadar oksigen di darah sangat rendah.

Redaktur: Siwi Tri Puji B
Sumber: Antara
READ MORE - Siti Arrahmah, Bayi Terlahir dengan Jantung di Luar Tubuh diterbangkan ke Jakarta

Friday, July 22, 2011

Pengalaman Negeri Sakura Mengoptimalkan Peran Profesi Keperawatan dalam Membantu Mengatasi Masalah Kesehatan

Oleh: Elsi Dwi Hapsari, S.Kp., M.S., D.S.*
Staf pengajar di Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Disampaikan pada Seminar Nasional PPNI Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta 23 April 2011


Ringkasan:
Perkembangan profesi keperawatan di Jepang tidak dapat dilepaskan dari faktor trend populasi, kondisi kesehatan dan penyebab kematian yang terjadi di masyarakatnya dari waktu ke waktu.  Penduduk Jepang mempunyai usia harapan hidup terlama di dunia dan angka fertilitas yang rendah.  Di lain pihak, faktor sosial dan budaya yang berlaku di masyarakat seperti pandangan terhadap kesehatan, tipe keluarga inti, peran wanita di masyarakat, dan sebagainya berkontribusi terhadap keunikan Jepang dalam proses pemberian pelayanan kesehatan bagi penduduknya.  Pada kesempatan ini akan dibahas tentang Jepang (masyarakat dan kondisi kesehatan di masyarakat), keperawatan di Jepang (keperawatan dan pendidikan keperawatan, Japanese Nursing Association, penelitian keperawatan, tenaga kerja perawat, partisipasi dalam proses pembuatan kebijakan), serta implikasinya terhadap keperawatan di Indonesia dan kaitannya dengan pencapaian Millennium Development Goals (MDGs).  Diharapkan tulisan ini dapat ikut berkontribusi dalam meningkatkan wawasan dan pengetahuan tentang pengalaman negeri sakura dalam mengoptimalkan peran profesi keperawatan dalam membantu mengatasi masalah kesehatan, diambil hikmahnya dan kemudian dapat menjadi bahan pertimbangan kita bersama untuk memberikan kontribusi dalam mengatasi masalah kesehatan di Indonesia.


Pengantar

A.  Jepang

1.  Masyarakat Jepang
     Jepang, negara berpenduduk 128 juta jiwa, adalah negara kepulauan (memiliki sekitar 6.852 pulau).  Banyak penelitian teknologi, mesin, dan biomedis yang dihasilkan oleh para ahli di Jepang dan diaplikasikan pada masyarakat.  Faktor sosial dan budaya yang berlaku di masyarakat seperti pandangan terhadap kesehatan, tipe keluarga inti, peran wanita di masyarakat, dan sebagainya berkontribusi terhadap keunikan Jepang dalam proses pemberian pelayanan kesehatan.  Masyarakat Jepang dikenal dengan banyak sifat yang memberi kesan mendalam bagi mereka yang berkesempatan untuk berinteraksi langsung dengan mereka, seperti sifat kerja keras, rasa malu, hidup hemat, loyal, inovatif, pantang menyerah, gemar membaca, bekerja sama dalam kelompok, mandiri dan menjaga tradisi (Prijambada, 2011).
2.  Kondisi Kesehatan Masyarakat Jepang
     Kondisi kesehatan dan penyebab kematian penduduk merupakan dua hal penting yang mempengaruhi kebijakan pemerintah Jepang dan juga dalam pola pemberian perawatan terhadap masyarakatnya.  Usia harapan hidup terlama di dunia adalah pada penduduk Jepang (82.6 tahun).  Angka fertilitasnya adalah 1.39.  Pada tahun 2020 nanti diperkirakan lebih dari satu di antara 4 penduduk Jepang akan berusia di atas 65 tahun.  Masyarakat lanjut usia di Jepang sangat memperhatikan kesehatannya dan berusaha untuk tetap sehat dengan cara berusaha untuk melakukan relaksasi, memelihara jadwal yang regular, makan makanan yang seimbang, melakukan olahraga, dan seterusnya.  Pemerintah Jepang berusaha untuk dapat mensosialisasikan kegiatan promosi kesehatan, seperti dengan memberikan fasilitas pemeriksaan kesehatan gratis dan konsultasi setiap tahunnya, mengeluarkan undang-undang yang relevan terkait hal tersebut dengan memperhatikan masukan dari berbagai profesi termasuk keperawatan.  Penyebab kematian terbesar penduduk Jepang saat ini adalah neoplasma, penyakit jantung, dan penyakit serebrovaskuler.  Pada tahun 1950-an, penyebab kematian utama adalah tuberculosis, penyakit serebrovaskuler dan pneumonia.  Dari tahun 1950-an sampai dengan tahun 2000-an terdapat perubahan tempat meninggalnya warga Jepang, dari rumah menjadi di rumah sakit.


B.  Keperawatan di Jepang

1.  Keperawatan dan Pendidikan Keperawatan di Jepang
    Sampai dengan April 2006 di Jepang terdapat 146 universitas, 45 college dan 510 lembaga pendidikan lainnya yang membuka program untuk perawat, bidan, perawat komunitas maupun lembaga pelatihan yang memberikan lisensi.  Pendidikan keperawatan di Jepang dimulai pada tahun 1885 dengan didirikannya sekolah keperawatan pertama oleh seorang dokter yang mempelajari konsep yang disampaikan oleh Florence Nightingale.  Pada saat itu, image tentang keperawatan adalah sebagai tenaga terdidik dan caring, namun demikian keperawatan diidentikkan sebagai suatu pekerjaan yang keras, kotor, berbahaya, gaji rendah, dsb.  Setelah Perang Dunia II, pendidikan keperawatan di Jepang diselenggarakan di tingkat universitas dan terus berkembang sampai dengan saat ini.  Kategori perawat di Jepang meliputi perawat, bidan, dan perawat komunitas.
     Untuk dapat bekerja sebagai perawat yang berlisensi di Jepang, seorang calon perawat harus menyelesaikan pendidikan setingkat SMA terlebih dahulu dan kemudian belajar di universitas selama 4 tahun, atau dapat juga dengan mengikuti program pendidikan 3 tahun, lalu mengikuti ujian nasional yang diselenggarakan satu tahun sekali oleh pemerintah Jepang.  Lisensi sebagai bidan maupun sebagai perawat komunitas dapat diperoleh setelah memperoleh lisensi sebagai perawat terlebih dahulu.  Lisensi ini berlaku untuk seumur hidup, baik untuk perawat asli Jepang maupun perawat asing yang lulus ujian nasional keperawatan di Jepang. 
    Terkait undang-undang, pada 1948, pemerintah Jepang mengeluarkan Undang-Undang Perawat, Bidan dan Perawat Komunitas.  Pada tahun 1992 pemerintah Jepang mengeluarkan Undang-undang Tenaga Kerja Perawat (Nursing Human Resource Law).  Tujuan dikeluarkannya undang-undang ini adalah untuk meningkatkan tingkat pendidikan perawat karena hal tersebut diperlukan untuk dapat memberikan perawatan pada populasi Jepang yang sebagian besar memasuki lanjut usia (diperlukan perawatan yang kompleks dan perawatan yang berbasis pada komunitas). 

2.  Japanese Nursing Association (JNA)
     JNA didirikan pada tahun 1946.  Aktivitas JNA antara lain membuat kelompok-kelompok penelitian yang hasilnya dapat berkontribusi dalam proses pengambilan kebijakan oleh pemerintah, kode etik keperawatan dan standar asuhan keperawatan.  JNA mempunyai pusat riset, perpustakaan da juga perusahaan percetakan untuk dapat mencetak jurnal-jurnal keperawatan ataupun textbook.  JNA juga menyelenggarakan bermacam kegiatan continuing nursing education.  Saat ini yang sedang diperjuangkan JNA adalah rasio staf perawat dengan pasien dan mereformasi pendidikan keperawatan di tingkat dasar (JNA, 2011).

3.  Penelitian Keperawatan di Jepang
    Penelitian keperawatan di Jepang difasilitasi oleh diadakannya konferensi keperawatan tiap tahun oleh setiap bidang ilmu dalam keperawatan.  Dilaporkan bahwa dalam satu tahun, produktivitas tulisan ilmiah oleh perawat Jepang adalah 480 buah.  Kehadiran perawat Jepang dalam kegiatan ilmiah seperti seminar/konferensi mencapai 17.000 orang.  Penelitian yang dihasilkan oleh perawat Jepang mencerminkan kebutuhan kesehatan pada masyarakat Jepang dan berkontribusi pada proses pengambilan kebijakan oleh pemerintah.  Pemerintah Jepang sendiri memberikan dukungan pada perkembangan penelitian keperawatan dengan membuat Center for Education and Research in Nursing Practice (Chiba University), 21st Century Center of Excellence for Disaster Nursing (University of Hyogo), dst.  Saat ini, fokus utama penelitian keperawatan adalah pada trend masyarakat Jepang di masa yang akan datang dan juga riset-riset lintas budaya dan studi komparasi.

4.  Tenaga Kerja Perawat
     Pada tahun 2004, jumlah perawat di Jepang adalah 1.292.593 orang (prosentase perawat laki-laki adalah 4.23%).  Pada tahun-tahun mendatang kebutuhan perawat di Jepang akan meningkat dan terjadi ketidakseimbangan antara supplai dan kebutuhan perawat, sehingga pemerintah Jepang menerapkan kebijakan untuk menerima tenaga kerja perawat dari luar negeri, seperti dari Indonesia dan Filipina. 

5.  Partisipasi dalam Proses Pembuatan Kebijakan
     JNA berperan dalam berbagai kebijakan yang diambil pemerintah terkait kesehatan seperti sistem biaya perawatan kesehatan, rasio perawat dibanding pasien, dan revisi terhadap undang-undang yang berlaku.  Hal tersebut didukung oleh hasil-hasil penelitian yang dilakukan oleh kalangan keperawatan dan kemampuan untuk me-lobby pemerintah.

C.Implikasinya terhadap Keperawatan di Indonesia dan Kaitannya dengan Pencapaian Millennium Development Goals (MDGs)
            MDGs merupakan target dan tindakan yang telah disepakati dalam Millennium Declaration yang diadopsi oleh 189 negara dan ditandatangani oleh 147 kepala negara pada United Nations Millennium Summit di bulan September 2000.  MDGs terdiri dari delapan sasaran, tiga diantaranya berkaitan langsung dengan kesehatan reproduksi dan seksual (peningkatan kesehatan maternal, penurunan angka kematian anak dan memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit lainnya) dan empat sasaran lainnya berkaitan langsung dengan kesehatan, termasuk kesehatan reproduksi (eradikasi kemiskinan dan kelaparan, pencapaian pendidikan primer secara universal, kesetaraan gender dan pemberdayaan wanita, dan memastikan keberlanjutan lingkungan). 
            Setelah mengetahui secara singkat apa yang terjadi di Jepang, berikut ini beberapa hal yang dapat dilakukan oleh perawat Indonesia untuk dapat berkontribusi secara bermakna dalam mengatasi masalah kesehatan di Indonesia.
Tingkat individu:
Internal:
1. Meningkatkan pendidikan, pengetahuan dan ketrampilan serta mengaplikasikannya di masyarakat untuk peningkatan kondisi kesehatan.  Mempunyai pengetahuan yang baik tentang trend populasi masyarakat Indonesia, pola penyakit, dst.
2.  Meminimalkan terjadinya nursing errors.
Eksternal:
1. Menjadi volunteer (sukarelawan) dalam kegiatan-kegiatan yang terkait dengan pencapaian MDGs.
2.  Ikut aktif dalam kegiatan organisasi profesi maupun organisasi kemasyarakatan lainnya yang berkaitan dengan pencapaian MDGs.
3. Aktif menginformasikan hasil-hasil kegiatan yang telah dilakukan terkait dengan pencapaian MDGs, misalnya dalam kegiatan konferensi, mengirimkan hasil penelitian ke jurnal, dst.
Tingkat organisasi:
1. Terlibat aktif dalam organisasi keperawatan dan meningkatkan profesionalisme organisasi profesi.
2.  Terlibat dalam proses perumusan kebijakan, pelaksanaan maupun evaluasi program yang terkait dengan pencapaian MDGs baik secara langsung maupun tidak langsung.
2.  Membantu secara aktif anggota PPNI yang ingin berkontribusi dalam pencapaian MDGs, baik melalui peran sebagai pemberi perawatan, komunikator, tenaga pengajar, advokasi pada klien, konselor, agen perubah, maupun peneliti.
3.  Melakukan kegiatan secara berkala terkait dengan pencapaian MDGs dengan melibatkan pihak ataupun profesi lain.
3.   Berkoordinasi dengan profesi lain dan para pemangku kepentingan.
Dukungan pemerintah sangat penting agar profesi keperawatan dapat memberikan kontribusi yang optimal dalam mengatasi masalah kesehatan di Indonesia.

Penutup
Telah disampaikan ulangan singkat tentang Jepang (masyarakat dan kondisi kesehatan di masyarakat), keperawatan di Jepang (keperawatan dan pendidikan keperawatan, Japanese Nursing Association, penelitian keperawatan, tenaga kerja perawat, partisipasi dalam proses pembuatan kebijakan), serta implikasinya terhadap keperawatan di Indonesia dan kaitannya dengan pencapaian Millennium Development Goals (MDGs).  Peran pemerintah dan organisasi profesi keperawatan sangat penting untuk mengatasi masalah kesehatan, baik dari sisi kebijakan pemerintah yang tercermin dalam undang-undang, maupun dari sisi organisasi profesi yang tercermin dalam perkembangan tingkat pendidikan, penelitian, dan kontribusi terhadap masyarakat.  Perawat Indonesia perlu terus meningkatkan kemampuan untuk dapat berkontribusi secara bermakna dalam mengatasi masalah kesehatan di Indonesia dan hal ini tidak dapat lepas dari dukungan pemerintah.


Daftar Pustaka

A Profile of Older Japanese 2011.  Avaliable http://www.ilcjapan.org/agingE/POJ11.html.
Hapsari ED.  Current situation of Indonesian nurses study and work in Japan.  Proceeding of International Nursing Seminar: Indonesian nurses to study and work in 3 countries: Preparation and Challenges.  Yogyakarta, 5 October 2010.
Hapsari ED.  Bekerja sebagai perawat di Jepang.  Prosiding Pelatihan Persiapan Tes Kemampuan Kangoshi Kokka Shiken, 5 Februari 2011, halaman 17-19.
Hapsari ED.  Kompetensi dan Kontribusi Profesi Keperawatan dalam Pencapaian Millenium Development Goals (MDGs).  Disampaikan pada Seminar Keperawatan PPNI Kabupaten Wonosobo, 23 Maret 2011.
Japanese Nursing Association.  Participation in Policy Making.  http://www.nurse.or.jp/jna/english/activities/participation.html.  Tanggal akses: 15 April 2011.
JNA News Release, 2011 vol. 5.
Prijambada ID.  Budaya dan Bahasa Jepang Selayang Pandang Serta Ujian Kemampuan Berbahasa Jepang.  Prosiding Pelatihan Persiapan Tes Kemampuan Kangoshi Kokka Shiken, 5 Februari 2011, halaman 9-16.
Primomo, J. (May 31, 2000): Nursing Around the World: Japan – Preparing for the Century of Elderly.  Online Journal of Issues in Nursing, volume 5 no. 2, Manuscript 2.  Available www.nursingworld.org/MainMenuCategories/ANAMarketplace/ANAPeriodicals/OJIN/TableofContents/Volume52000/No2May00/JapanElderlyCentury.aspx.
Turale S, Ito M, Nakao Fujiko.  Issues and challenges in nursing and nursing education in Japan.  Nurse Education in Practice (2008) 8, 1-4.


Perawat Indonesia yang sedang belajar/bekerja di Jepang, Belanda, Thailand, Australia, Amerika, dll punya tanggung jawab, bila perlu menulis artikel ilmiah, untuk menginformasikan tentang Undang-undang Keperawatan yang ada di negara-negara tersebut. Di Jepang sudah ada sejak 1948. Bagaimana dgn di negara lainnya? Ayo berkontribusi dalam membuat Indonesia menjadi lebih baik.
READ MORE - Pengalaman Negeri Sakura Mengoptimalkan Peran Profesi Keperawatan dalam Membantu Mengatasi Masalah Kesehatan

Sunday, May 22, 2011

Mr.P Tegang di Pagi Hari

Masalah seksualitas bukanlah sesuatu yang lagi tabu untuk diperbincangkan, dengan catatan ketika topik yang diangkat mengarah pada pengetahuan dan tidak mengedepankan masalah yang berbau asusila. Salah satu diantaranya ialah mengenai topik Mr.P yang senantiasa tegang (ereksi) di pagi hari saat Kaum Adam bangun di pagi hari. Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan, akan tetapi ternyata banyak juga rekan-rekan yang membicarakan mengenai topik ini. Semoga saja obrolan ini bisa sedikit membantu menjawab kebiasaan Mr.P yang senantiasa bangun di pagi hari.
Mr.P yang ereksi di pagi hari merupakan sesuatu yang normal. Dalam beberapa sumber disebut sebagai morning erection. Hal ini ternyata dimulai sejak kita masih bayi. Beberapa peneliti mengatakan bahwa ketika kita masih bayi dan selama dalam kandungan, Mr.P pun ereksi ketika pagi hari. Ada juga yang mengatakan bahwa karena kadar hormon pria, testosteron, di pagi hari meningkat. Sehingga menyebabkan Mr.P ereksi.
Ereksi yang terjadipun bermacam-macam, ada yang mulai ereksi menjelang bangun tidur, ada pula yang ereksi ketika pagi hari menjelang, ada juga ketika ingin buang air kecil ketika di pagi hari. Hal ini tentunya sesuatu yang normal. Kemudian pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara membuatnya kembali mengendur?
Ia tegang dengan sendirinya, maka iapun akan kendur dengan sendirinya. Hal yang perlu diperhatikan adalah mind set kita mengenai Mr.P yang ereksi. Bagi Anda yang telah menikah, Mr.P yang ereksi bisa dijadikan sebagai langkah awal untuk melakukan coitus. Sedangkan bagi Anda yang masih single, segera cari istri agar Mr.P ada tempat yang halal ^^ . 
READ MORE - Mr.P Tegang di Pagi Hari

Sunday, May 08, 2011

Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia (MTKI)

MTKI (Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia) telah dilantik oleh Menteri kesehatan RI ibu dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr. PH di Auditorium Lantai 4 Badan PPSDM , Kebayoran Baru, Jakarta –Selatan. tanggal 16 Februari 2011 pukul 15.30 wib. Majelis ini beranggotakan perwakilan tenaga kesehatan yang ada di Indonesia. MTKI yang dilantik terdiri dari wakil Kementerian Kesehatan, wakil dari unsur pendidikan dan 21 wakil dari berbagai profesi kesehatan yang akan menduduki Divisi Profesi, Divisi Standarisasi dan Divisi Evaluasi. Perwakilan perawat yang duduk dalam keanggotaan MTKI adalah Dra. Junaiti Sahar, M. Appp,Sc, PhD, Harif Fadhillah, S.Kp, SH, Rita Sekarsari, S.Kp, MHSM.

Sesuai dengan Permenkes nomor 161/menkes/I/2010 tentang Registrasi Tenaga Kesehatan, fungsi dan tugas MTKI adalah :
  1. Membantu menteri dalam menyusun kebijakan, Strategi, dan tata laksana registrasi
  2. Melakukan upaya pengembangan mutu tenaga kesehatan
  3. Melakukan kaji banding mutu Tenaga Kesehatan
  4. Menyusun tata cara uji kompetensi, penguji, dan memonitor MTKP
  5. Menerbitkan dan mencabut STR (surat tanda registrasi)
  6. Melakukan sosialisasi Registrasi Tenaga Kesehatan, dan
  7. Melakukan pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan registrasi
Selanjutkan MTKI akan membentuk MTKP (majelis tenaga kesehatan propinsi) di 33 propinsi sebagai unit fungsional dari Badan PPSDM Kesehatan dibawah koordinasi MTKI dan bertanggung jawab kepada kepala badan melalui MTKI.

Lalu bagaimana mensinergikan peran organisasi profesi (OP) dalam pelaksanaan uji kompetensi bagi seluruh anggotanya, tentu saja keharmonisasiannya akan terwujud dengan adanya kinerja yang baik dalam keterwakilan OP di MTKI. (ners-indonesia)

download GRATIS  Permenkes nomor 161/menkes/I/2010
READ MORE - Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia (MTKI)

Thursday, February 03, 2011

Sejarah Bedah Jantung

SEMASA Perang Dunia kedua (1939-1945), para dokter menemukan langkah maju bidang tranfusi darah, pembiusan (anastesi-red) dan antibiotik yang mendorong pengembangan bedah jantung modern. Seorang ahli bedah Angkatan Darat Amerika Serikat dokter Dwight Harken mengeluarkan pecahan peluru meriam dari jantung seorang prajurit yang masih berdetak dengan memasukan jemarinya ke lubang luka, menemukan serpihan logam dan mengeluarkannya.

Kendala utama dalam bedah jantung terbuka adalah saat jantung berhenti berdetak untuk melakukan operasi, ahli bedah hanya memiliki waktu empat menit untuk melakukan tindakan terhadap jantung pasien. Lebih dari itu, pasokan darah yang berhenti akan mengakibatkan kekurangan oksigen pada otak yang meni mbulkan cacat permanent.

Terobosan bedah jantung dilakukan dokter Bill Bigelow (1913-2005) dari Universitas Minesotta yang mempelajari perilaku tidur musim dingin mamalia (hibernasi-red) yang memberi gagasan untuk mengurangi suhu tubuh pasien dari 98 deraja t Fahrenheit menjadi 81 derajat Fahrenheit. Dalam kondisi tersebut, dokter dapat memperpanjang waktu bedah jantung terbuka menjadi sepuluh menit.

Perkembangan teknologi memunculkan mesin paru-paru jantung (heart-lung machine) yang ditemukan John Gibbon (1903-1973) di Philadelphia tahun 1953. alat tersebut dihubungkan ke pasien sehingga jantung dapat tetap berfungsi di saat pembedahan berlangsung. Ahli bedah pun lebih leluasa dalam menjalankan operasi karena waktu operasi lebih panjang.

Upaya pertama bedah jantung terbuka dengan mesin paru-paru jantung dilakukan tanggal 15 Mei 1953 atas pasien Cecilia Bavolek (18). Cecilia terhubung dengan mesin selama 27 menit di saat dokter Gibbon menjalankan operasi jantung.

Prosedur operasi pun berkembang hingga memperbaiki lubang pada jantung. Operasi pertama untuk menangani lubang pada jantung dilakukan tanggal 2 September 1952 oleh dokter F. John Lewis dan dokter Walton Lillehei (1918-1999) atas pasien seorang bocah perempuan berusia lima tahun.

Sedangkan operasi by-pa ss jantung pertama dilakukan tahun 1967 oleh ahli jantung Argentina dokter Rene Favaloro (1923-2000) di Cleveland, Ohio, Amerika Serikat.

Disarikan dari The Book of Origins, karya Trevor Homer, Penguin Books, London, 2007
sumber : kompas
READ MORE - Sejarah Bedah Jantung

Cari dalam Blog ini

Loading...

Artikel Terbaru

Belajar Islam Online

  © Free Blogger Templates Columnus by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP